Written by Nasikin Sani
TERBITAN JURNAL» Category: VOL. 10 Nomor 2, DESEMBER 2010
Published on 07 March 2012 Hits: 1821
Print

Harjanto

Staf Pengajar Jurusan Teknik Kimia Polnes

Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Abstrak

Spektrofotometri  serapan  atom  (SSA)  adalah  salah  satu  metode  analisa kuantitatif  untuk  penentuan  kadar  logam.  Tujuan  dari  penelitian  ini  adalah  untuk mengetahui kinerja SSA pada setiap  panjang gelombang  resonansi besi.  Larutan standar besi dengan konsentrasi 0; 2; 4; 6; 8; 10; 15; 20;25; 30; 40; 50; 60; 70; 80; 90 dan 100 ppm diukur absorbansinya dengan spektofotometer Varian Spectra-220 pada 25 panjang gelombang resonansi besi. Panjang gelombang resonansi yang dapat digunakan untuk analisa besi adalah 248,3; 252,3; 271,9; 296,7;  302,1 ; 372,0; dan 386,0  nm dengan sensitivitas berturut-turut 0,0406; 0,0243; 0.0116; 0,0046; 0,0121; 0,0075; dan 0,0041 serta batas deteksi berturut-turut 0,0824; 0,1792; 0,0116; 0,0028; 0,0465; 0,0623;dan 0,2472 ppm. Untuk konsentrasi rendah dapat digunakan panjang gelombang 248,3; 252,3; 271,9; dan 302,1 nm, sedangkan panjang gelombang 296,7; 372,0; dan 386,0  nm dapat digunakan sampai konsentrasi tinggi. Panjang gelombang 259,9; 278,8; 281,3; 332,4; 334,6; 337,8;  352,1; 357,0; 363,2; 404,6 dan 438,4 nm, tidak dapat digunakan untuk analisa besi karena menghasilkan presisi yang rendah. Sedangkan panjang gelombang 344,1; 358,2; 373,7; 374,6; 382,1;382,6; dan 388,7 nm sebaiknya tidak digunakan karena sensitivitasnya rendah.

Kata kunci : Absorbansi, besi, panjang gelombang resonansi, sensitivitas dan SSA

 
Written by Nasikin Sani
TERBITAN JURNAL» Category: VOL. 10 Nomor 2, DESEMBER 2010
Published on 07 March 2012 Hits: 1537
Print

Yuliani. HR

Jurussan Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang, Makassar

Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Abstrak

Pembuangan limbah deterjen oleh jasa pencucian komersial secara langsung ke lingkungan dapat menyebabkan terjadinya pencemaran air. Untuk itu perlu dilakukan usaha  untuk menanggulanginya melalui pengolahan menggunakan metode adsorpsi. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai sebagai alternatif adsorben adalah ampo  yang  dimodifikasi  melalui  metode  pilarisasi.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk mengetahui pengaruh pilarisasi ampo, yaitu variasi OH/Fe dalam penjerapan deterjen dalam air dan membandingkan terhadap ampo tanpa modifikasi. Pembuatan ampo terpilar diawali dengan pencucian ampo kemudian pembuatan suspensi ampo, tahap selanjutnya pembuatan larutan pemilar pada perbandingan OH/Fe 0,5; 1; 1,5; 2 dan 2,5 sambil diaduk sampai jernih kemudian didiamkan selama 24 jam. Tahap kedua dilakukan pemilaran ampo, penyaringan dan pencucian serta pengeringan selanjutnya dikeringkan pada 400oC selama 4 jam.  Produk ampo terpilar  dan ampo tanpa pilar hasil  dikalsinasi  digunakan  untuk  menjerap  deterjen  dalam  air.  Hasil  penelitian menunjukkan pilarisasi  ampo  dapat  meningkatkan  kinerja  ampo pada  penjerapan deterjen dalam air.  Penjerapan paling tinggi diperoleh pada Fe/ampo 2 dan OH/Fe 2 dengan kapasitas maksimum adsorpsi tertinggi ampo tanpa pilar sebesar 17,24 mg MBAS/g. Ampo tanpa terpilar mempunyai kapasitas maksimum adsorpsi sebesar 11,76 mg MBAS/g.

Kata kunci:  ampo, pilarisasi, adsorpsi, deterjen.

 
Written by Nasikin Sani
TERBITAN JURNAL» Category: VOL. 10 Nomor 2, DESEMBER 2010
Published on 07 March 2012 Hits: 2152
Print

Fajar

(Staf  Pengajar Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang)

Abstrak

Ketergantungan terhadap penggunaan bahan bakar minyak yang berasal dari fosil menunjukkan peningkatan, hal ini tidak di imbangi dengan jumlah cadangan minyak fosil yang kian tahun kian menurun serta harga minyak mentah yang melambung tinggi. Di lain hal perkembangan kemajuan teknologi di bidang sumber daya alam mengalami peningkatan, salah satunya biodiesel sebagai pengganti minyak solar yang di produksi dari minyak nabati dengan proses esterifikasi. Minyak nabati yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak dari biji kepayang (Pangium Edule REINW). Penelitian ini dilakukan  dengan  cara  memisahkan  padatan  dan  minyak  dengan  pengepresan kemudian minyak direaksikan bersama metanol dan katalis KOH dengan perbandingan mol metanol minyak 1:6. Suhu, konsentrasi katalis dan waktu reaksi di variasikan untuk mencapai kondisi terbaik dalam penelitian ini. Setelah dilakukan penelitian diperoleh kondisi terbaik. Pada penggunaan katalis 1% diperoleh yield produk sebesar 79,83%, pada suhu 60°C diperoleh yield produk sebesar 84,52% dan waktu reaksi selama 90 menit diperoleh yield produk sebesar 84,11%. Produk tersebut dianalisis berdasarkan ASTM D 6751 yaitu meliputi viskositas, flash point dan angka asam. Pada analisa angka asam hasil yang diperoleh tidak memenuhi standar ASTM D 6751. Sedangkan penentuan densitas dilakukan berdasarkan standarisasi SNI 04-7182-2006.

Kata kunci : biodiesel, esterifikasi, minyak kepayang

 
Written by Nasikin Sani
TERBITAN JURNAL» Category: VOL. 10 Nomor 2, DESEMBER 2010
Published on 07 March 2012 Hits: 3565
Print

Marinda Rahim1),  Indriyani Octania S.2)

1)Staf Pengajar Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Samarinda

2)Mahasiswa D III Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Samarinda Angkatan 2005

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Abstrak

Pemanfaatan batu bara peringkat rendah (lignit) saat ini belum maksimal, dikarenakan nilai kalornya rendah, dan kadar abu serta sulfurnya tinggi. Diperlukan pengolahan lebih lanjut agar batu bara peringkat rendah ini memiliki nilai guna lebih tinggi. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah mengolah bahan ini menjadi karbon aktif. Pemilihan batu bara lignit untuk dijadikan karbon aktif dalam penelitian ini adalah karena cadangan bahan tersebut sangat melimpah di KalimantTimur, disisi lain kegunaan karbon aktif cukup luas dan memegang peranan penting terutama digunakan dalam proses-proses pemurnian. Dalam penelitian ini telah  diperoleh temperatur aktivasi fisika dan konsentrasi NaOH pada aktivasi kimia, dalam pembuatan karbon aktif dari batu bara lignit. Bahan baku berukuran 10 mesh, yang berasal dari PT KPUC Separi Tenggarong,  diaktivasi secara fisika selama 2  jam  dengan cara dipanaskan pada variasi  temperatur  500oC,  600oC,  700oC,  800oC  dan   900oC, kemudian  diaktivasi secara  kimia  melalui  proses  perendaman  menggunakan  aktivator  NaOH  dengan konsentrasi 1% berat selama 2 jam. Perlakuan ini memberikan hasil proses aktivasi fisika terbaik pada temperatur 800oC dengan karateristik karbon aktif sebagai berikut : kadar air  9,13%, kadar abu 20,1%, bagian yang hilang  pada pemanasan 950oC 3,82%, dan daya jerap iod 14,78%. Pengolahan dilanjutkan dengan melakukan aktivasi kimia pada variasi konsentrasi NaOH 3% dan 5% berat guna meningkatkan daya jerap  iod,  sedangkan  aktivasi  fisika  dilakukan  pada  temperatur  800oC.  Proses  ini memberikan hasil terbaik pada konsentrasi NaOH 5% dengan nilai kadar air  8,05%, kadar abu 16,70%, bagian yang hilang pada pemanasan 950oC 9,92% dan daya jerap iod 24,88%. Rendemen dasar kering rata-rata yang dihasilkan pada penelitian ini adalah 15,24%

Kata Kunci : aktivator NaOH, batu bara peringkat rendah, karbon aktif.

 
Written by Nasikin Sani
TERBITAN JURNAL» Category: VOL. 10 Nomor 2, DESEMBER 2010
Published on 07 March 2012 Hits: 2000
Print

Hardianto

Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Abstraks

Unit  Daur  Ulang  dan  Produksi  Kompos  (UDPK)  Gadang  belum  maksimal  dalam menanggulangi akumulasi timbulan sampah. Kapasitas olah UDPK sebesar 154,5 m3/hari belum maksimal dalam operasionalnya karena masih menghasilkan produksi kompos sebesar 350,08 kg/bulan,  atau  sekitar  0,16%.  Penelitian  ini  bertujuan  menentukan  besarnya  potensi  reduksi sampah, melakukan evaluasi kemampuan UDPK dalam mereduksi sampah, dan kajian finansial dari usaha  tersebut.  Pengumpulan  data primer  pada  aspek teknis dilakukan  dengan  metode sampling. Pengukuran berat jenis sampah dengan metode SNI 19-3964-1995. Sedangkan untuk menentukan  komposisi  sampah  dilakukan  dengan  metode  perempatan.  Pengumpulan  data sekunder dilakukan dengan cara wawancara maupun laporan instansi. Pengumpulan data sekunder pada aspek finansial dilaksanakan dengan metode deskriptif dan eksploratif meliputi alokasi dana untuk persampahan, penghasilan unit usaha, pemasaran dan harga kompos, serta harga barang lapak. Analisis teknis dengan pengambilan sampel pada TPS diperoleh data bahwa volume timbulan sampah sebesar 3,9 m3/hari, dan berat timbulan sampah sebesar 793,49 kg/hari. Sedangkan komposisi sampah terbesar adalah sampah basah. Perhitungan neraca massa didapatkan potensi UDPK  Gadang  mampu  mereduksi  timbulan  sampah  sebesar  170,91  kg/hr. Analisis  finansial dengan NPV, B/C ratio, dan PBP hasilnya bahwa UDPK kurang layak dikembangkan bila tidak ditambah dengan bahan baku dan daya olahnya. Evaluasi kemampuan mereduksi sampah, perlu optimalisasi lahan pengomposan.

Kata Kunci : Evaluasi teknis dan finansial, UDPK Gadang, potensi reduksi sampah

 

Page 1 of 2

<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
| + - | RTL - LTR
KARYA ILMIAH administered by : SISTEM INFORMASI POLNES.