Andi Farid Hidayanto1

1Program Studi Desain Produk, Jurusan Desain, Politeknik Negeri Samarinda

Jl. Ciptomangunkusumo, Samarinda, 75131Telp 0541260588

Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Anna Rulia2

2Program Studi Arsitektur, Jurusan Desain, Politeknik Negeri Samarinda

Jl. Ciptomangunkusumo, Samarinda, 75131Telp 0541 260588

Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Abstract

Indonesia is a disaster-prone areas. To meet the logistical needs of the victim and the officer needed a common kitchen. Common kitchen that is generally in the form of tents, buildings used as shelters, or modified car. Common kitchen there is an emergency nature, improvise, and how far from the disaster site. These problems need to design a common kitchen for natural disaster management, which can meet the needs, the officer and the victim. In designing methods Pahl and Beitz with steps Planning and explanation of the task, design concept, design forms, and design details. Collecting data using methods Individual Questionnaire and Focus Group Discussion the results obtained attributes required in the design. Results of the research is a common kitchen design for a natural disaster are portable, easily assembled and disassembled, can be set up in various locations condition, easy to operate, able to accommodate facilities and needs. Common kitchen design produced in the form of large-scale three-dimensional model, a blueprint for the technical specifications, and the protoype.

Keywords: natural disasters; design; soup kitchen; portable.

 

Abstrak

Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Untuk memenuhi kebutuhan logistik korban dan petugas diperlukan dapur umum. Dapur umum yang ada umumnya berupa tenda peleton, bangunan yang dijadikan posko, atau mobil yang dimodifikasi. Dapur umum yang ada sifatnya darurat, seadanya dan lokasinya jauh darilokasi bencana. Dari masalah tersebut perlu desain dapur umum untuk penanggulangan bencana alam, yang bisa memenuhi kebutuhan, baik petugas maupun korban. Dalam mendesain menggunakan metode Pahl dan Beitz dengan langkah-langkah Perencanaan dan penjelasan tugas, Perancangan konsep, Perancangan bentuk, dan Perancangan detail. Pengumpulan data menggunakan metode Individual Questionnaire dan Focus Group Discussion yang hasilnya didapatkan atribut yang diperlukan dalam desain. Hasil dari penelitian berupa desain dapur umum untuk penanggulangan bencana alam yang portable, mudah dirakit dan dibongkar, bisa didirikan di lokasi yang beraneka kondisi, mudah dioperasikan, mampu menampung fasilitas dan kebutuhan. Desain dapur umum yang dihasilkan dalam bentuk model tiga dimensi berskala, blue print spesifikasi teknis, dan protoype.

Kata Kunci: bencana alam; desain; dapur umum; portable

 

Hatta Musthafa Adham Putra

Staf pengajar Prodi Arsitektur, Jurusan Desain

Politeknik Negeri Samarinda

E-mail This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

ABSTRAK

Arsitektur jengki telah menjadi bagian dari sejarah perkembangan arsitektural di Indonesia.Tidak banyak daerah yang memiliki peninggalan langgam bangunan ini.Balikpapan dibom oleh sekutu pada tahun 1945, sehingga tidak banyak peninggalan Belanda yang masih dapat dilihat saat ini. Salah satu komplek bangunan dengan gaya arsitektur Jengki masih berdiri di kawasan komplek wisma kilang di lahan Pertamina.

Wisma kilang, saat penelitian ini ditulis, lebih dikenal dengan sebutan wisma kilang.Bangunan ini terdiri dari 6 (enam) buah rumah 2 (dua) lantai yang berjejer dengan menghadap ke arah selatan.Keunikan dari bagian eksterior wisma kilang ini adalah tampilan arsitektur jengki.Elemen unik tersebut terlihat dari bentuk atap, bentuk dinding, ada/tidaknya beranda, bentuk kusen yang dimodifikasi, penggunaan rooster, serta elemen dekoratif pendukung bangunan.Sebagai bangunan unik dan bergaya khas indis – Jengki, maka sudah sepantasnya wisma kilang ini dirawat dan dilestarikan.

Kata kunci :Jengki, Indis, Wisma kilang balikpapan

 

ABSTRACT

Jengki’s architecture has become part of the architectural history in indonesia .Not much an area that has a relic langgam this building. Balikpapan bombed by allies in 1945 , so not much dutch heritage that can still be seen now. One complex building with a style of jengki’s architecture were still standing in the region complex wisma the refinery in land ofpertamina.

Kilang’s guesthouse, now a day , better known as Kilang’s Cafe .This building consisted of six unit building that consist of 2 ( two ) the floor which lined with the face toward the south. Distinctness of the exterior part kilang’s guesthouse is the interface of jengki‘s architecture. Unique elements is evident from the form of a roof , the form of a wall , there is a porch / are permitted , the form of the sills of being modified, using of rooster , as well as decorative elements advocates building. As a building unique and stylized typical indis - jengki, then that is worth creation kilang’s guesthouse cared for and preserved.

Keywords :jengki, indisch, kilang’s guesthouse Balikpapan

 

Dwi Cahyadi1

1Staf PengajarJurusanDesain, PoliteknikNegeriSamarinda

Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Suparno2

2Staf PengajarJurusanTeknikMesin, PoliteknikNegeriSamarinda

Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Abstrak

Lempok durian adalahmakanan sejenisdodoldenganbahanutamadaribuah durian yang merupakanmakananolahantradisionalandalanmasyarakatkotaSamarinda. Pembuatanlempokinidilakukansecaraturuntemurunolehmasyarakatdenganteknologisederhana.Dari observasi di areal kerja, proses produksi  lempok masih kurang dari standar ergonomi dilihat dari sudut lingkungan fisik kerja seperti tingkat pencahayaan dan tingkat kebisingannyaserta layout ruangnya. Permasalahan lainnya adalah belumadanyastandarwaktubakubagiseorangpekerjauntukmemproduksilempok durian. Penelitianiniditujukanuntukmerancang areal kerja yang ergonomisdenganmengukur tingkat kebisingan, intensitas pencahayaan dan merancang layout ruangan yang ergonomisserta mengukurwaktubakudalam proses produksi pembuatanlempok durian. Metode yang digunakan adalah analisis lingkungan fisk kerja, analisis layout ruangan dan pengukuran serta perhitungan waktu baku. Dari hasil penelitian diperoleh hasil tingkat pencahayaan 90 – 110 lux dan tingkat kebisingan 55 – 66 db serta usulan perubahan layout ruangan. Sedangkan untuk waktu baku dari hasil pengukuran dan perhitungan adalah 62 menit.

Kata kunci : lempok, layout, pencahayaan, kebisingan, waktu baku.

 

Page 6 of 88

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

INFO TERBITAN (ACAK)

Pengantar Redaksi MEDIA PERSPEKTIF VOL. 11 Nomor 1, JUNI 2011

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas Rahmat dan Karunia-Nya Jurnal Media Perspektif Politeknik  Negeri  Samarinda  Volume  11  nomor  1,  Juni  2011  dapat  diterbitkan.  Media Perspektif Polnes memuat hasil-hasil penelitian bidang Teknologi dan Karya Ilmiah non penelitian yang bermutu. Media Perspektif diterbitkan dua kali dalam satu tahun, yaitu setiap bulan Juni dan bulan Desember.

Pengunjung Aktif

We have 31 guests and no members online

| + - | RTL - LTR
KARYA ILMIAH administered by : SISTEM INFORMASI POLNES.