THE EFFECT OF SOIL DENSITY OF KALI OPAK PLERET YOGYAKARTA SAND ON LIQUEFACTION POTENTIAL BASED ON SHAKING TABLE TEST

Bimawijaya Laia

Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan, Universitas Gadjah Mada, Indonesia

Staff Pengajar, STKIP Nias Selatan

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

INTISARI

Likuifaksi adalah suatu peristiwa berubahnya sifat tanah dari keadaan padat menjadi keadaan cair, yang disebabkan oleh beban siklik pada saat gempa terjadi sehingga tekanan air pori meningkat melebihi tegangan efektif tanah. Likuifaksi umumnya terjadi di lapisan sedimen granular dengan tingkat kerapatan rendah. Pengaruh kerapatan relatif tanah terhadap mekanisme likuifaksi dapat diketahui dengan melakukan uji eksperimental menggunakan shaking table. Parameter yang digunakan untuk menentukan tanah yang mengalami likuifaksi adalah rasio peningkatan tegangan air pori (ru). Jika ru ≥ 1 maka likuifaksi dapat terjadi, sedangkan jika ru < 1 maka likuifaksi tidak dapat terjadi. Tanah pasir Kali Opak Pleret  yang digunakan sebagai objek dalam penelitian memiliki kerapatan sebesar 24,35%. Hasil evaluasi uji shaking table menunjukkan bahwa potensi likuifaksi terbesar terjadi pada kerapatan relatif tanah 25% untuk percepatan gempa 0,4g dan terendah tercatat pada kerapatan relatif tanah 55% untuk percepatan gempa 0,3g. Penurunan muka tanah terbesar terjadi pada kerapatan relatif 25% yakni 4 cm dan terendah pada kerapatan 55% sebesar 0,53 cm. Pengujian ini menunjukkan bahwa pada tanah pasir Kali Opak Pleret dengan kerapatan relatif tanah 25% dan 35% berpotensi likuifaksi, dan pada kerapatan relatif tanah 45% dan 55% tidak berpotensi likuifaksi.

 

Kata Kunci:   likuifaksi, uji shaking table, kerapatan relatif, rasio peningkatan tegangan air pori

ABSTRACT

Liquefaction is an event changing soil properties of the solid state into a liquid state, which is caused by cyclic loading when an earthquake occurs that exceeds the pore water pressure increases the effective voltage ground. Liquefaction generally occurs in the sedimentary layers of low density granular level. The influence of the relative soil density on liquefaction mechanism can be determined by performing an experimental test using a shaking table. The parameters used to determine soil liquefaction is experiencing an increase in the ratio of pore water pressure (ru). If ru ≥ 1 then liquefaction can occur, whereas if ru <1 then liquefaction can not occur. Opak Pleret sandy soil that is used as the object of study has a density of 24.35%. Shaking table test results of the evaluation showed that the greatest potential for liquefaction occurs in the soil relative density of 25% for the seismic acceleration 0,4g and the lowest was recorded at 55% relative density soil to earthquake acceleration 0,3g. The land subsidence occurred in the relative density of 25% which is 4 cm and the lowest density of 55% amounting to 0.53 cm. This test showed that the sandy soil Opak Pleret with relative soil density 25% and 35% potential liquefaction, and the relative soil density of 45% and 55% no potential liquefaction.

Keywords: liquefaction, shaking table test, the relative density, the ratio of increase in pore water pressure

 

THE UTILIZATION OF COAL ASH AND LATERITE AS A SUBTITUTE OF FINE AGGREGATE FOR CONCRETE STRENGTH

Deni Rudianto

Mahasiswa, Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Samarinda

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Tumingan

Staff Pengajar, Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Samarinda

Kukuh Prihatin

Staff Pengajar, Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Samarinda

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

INTISARI

Beton merupakan bahan bangunan yang banyak digunakan dalam konstruksi pembangunan gedung dan perkerasan jalan. Salah satu material penyusun beton adalah agregat halus  Agregat halus yang digunakan pada penelitian ini yaitu coal ash dan laterit. Dengan memanfaatkan limbah dari pengolahan batubara (coal ash) dan laterit yang telah dihancurkan menggunakan stone crusher sebagai pengganti salah satu material penyusun beton (agregat halus) dengan tujuan penelitian untuk menentukan kuat tekan, kuat tarik belah optimum beton campuran coal ash dan laterit serta membandingkan hasil tersebut terhadap kondisi normal (tanpa penggunaan coal ash dan laterit), beton campuran coal ash dan laterit ini dibuat dengan delapan silinder tiap campuran dengan semen : 5.07 kg , coal ash : 2.37 kg , air : 3.02 kg , pasir laterit : 7.95 kg , batu palu ½ 10.65 kg, dengan perbandingan tersebut, beton campuran coal ash dan laterit mampu mencapai 25.80 MPa pada umur 28 hari dan mampu mencapai kuat tekan yang direncanakan fc’ 25 MPa, maka beton campuran coal ash dan laterit dapat digunakan sebagai bahan pengganti agregat halus dengan persentase agregat kasar batu palu ½ 50% , coal ash  12.5% , dan laterit 37.5% .

Kata kunci : Beton, Coal Ash , laterit, Agregat Halus

ABSTRACT

Concrete is a building material that is widely used in the construction of buildings and pavement. One of the materialof concrete is fine aggregate. Fine aggregate used in this study is utilizing the wasted of coal (coal ash) and laterite which is shattered using a stone crusher. The aim of this study are determine the compressive strength and tensile strength from optimum mixture of coal ash concrete and laterite and compare with normal conditions (without the use of coal ash and laterite). a mixture of coal ash concrete and laterite is made with eight cylinders. Each mix have a composition are cement: 5:07 kg, coal ash: 2:37 kg, water: 3:02 kg, sand laterite: 7.95 kg, palu stone ½ 10.65 kg. Concrete mixture by coal ash and laterite can reach 25.80 MPa at 28 days with compressive strength fc' is 25 MPa, a mixture of coal ash concrete and laterite can be used as a substitute material with a fine aggregate the percentage of coarse aggregate palu stone ½ 50%, coal ash 12.5%, 37.5% and laterite.

Keywords : Concrete, Coal Ash, Laterite, Fine Aggregate.

 

EXPERIMENTAL STUDY OF SHALLOW FOUNDATION WITH UPLIFT LOAD IN SAND

Raudah Ahmad

Staff Pengajar, Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Samarinda

raudah_ahmad@gmail.com

Agus Darmawan Adi

Staff Pengajar, Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan, Universitas Gadjah Mada, Indonesia

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Hary Christady Hardiyatmo

Staff Pengajar, Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan, Universitas Gadjah Mada, Indonesia

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

INTISARI

Investigasi pada gaya tarik ke atas fondasi dangkal telah diungkapkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan antara beban tarik ke atas dan perpindahannya adalah bentuk telapak dan kedalaman fondasi. Hasil uji di Laboratorium ditampilkan dalam studi ini yang dibandingkan dengan metode analisis dari teori yang telah ada. Penelitian dilakukan pada tanah pasir murni. Bentuk telapak yang digunakan adalah persegi dan lingkaran dengan diameter 30 cm. Rasio kedalaman terhadap diameter telapak adalah 0,33;0,67 dan 1. Hasil uji Laboratorium menunjukkan perbedaan hasil dengan Hasil analisis. Hasil pengujian tarik diperoleh kapasitas ultimit tarik dan diameter bidang runtuh di permukaan meningkat dengan bertambahnya kedalaman. Prisma tanah yang terangkat membentuk sudut kelongsoran yaitu q = ½f. Hasil pengujian tarik model fondasi dangkal dengan telapak persegi lebih besar 28,35% terhadap telapak lingkaran pada lebar (B) dan diameter (D) yang sama. Das dan Seeley (1975) menghasilkan nilai kapasitas ultimit tarik terbesar. Metode Bowles (1988) menghasilkan nilai terkecil. Metode Murray dan Geddes (1987) memiliki nilai yang mendekati hasil pengamatan.

Kata kunci : Kapasitas ultimit tarik, tanah kepasiran, bentuk telapak

ABSTRACT

An investigation into the vertical uplift of shallow foundation in sand is described. Factors investigated in relation to the load-displacement response were the shape of footing and depth of embedment. The results of laboratory tests are presented, together with analysis methods by existing theories to predicting the ultimate resistance. Soil used on sandy soil. Shape footing used are square and circular footing with diameter footing is 30 cm. Embedment ratio are 0,33; 0,67 and 1. Comparisons are made between the laboratory test results and existing theories. It is shown that the different of ultimate resistance by laboratory tests results and analysis results. The Laboratory test result are ultimate uplift capacity and  diameter of surface failure increased with the increasing embedment ratio. Soil deformation make an angle inclination equal to half of internal friction angle q = ½f. Uplift load capacity for square footing greater 28,35% than circular footing at the same width (B), diameter (D) and depth. Das dan Seeley (1975) method give a biggest uplift load capacity. Bowles (1988) method give a smallest uplift load capacity. Murray and Geddes (1987) method very close with the Laboratory result.

Keywords : ultimate uplift capacity, sandy soil, shape of footing

 

Page 10 of 88

<< Start < Prev 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Next > End >>

INFO TERBITAN (ACAK)

Pengantar Redaksi MEDIA PERSPEKTIF VOL. 10 Nomor 1, JUNI 2010


Jurnal Teknologi
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya Jurnal Media Perspektif Politeknik Negeri Samarinda Volume 10 nomor 1, Juni 2010 dapat diterbitkan. Media Perspektif Polnes memuat hasil-hasil penelitian bidang Teknologi dan karya ilmiah non penelitian yang bermutu. Media Perspektif diterbitkan dua kali dalam satu tahun, yaitu setiap bulan Juni dan bulan Desember.

Pengunjung Aktif

We have 82 guests and no members online

| + - | RTL - LTR
KARYA ILMIAH administered by : SISTEM INFORMASI POLNES.