Ibayasid

(Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Samarinda)

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Abstrak

Dalam rangka mempercepat proses pembangunan di Kalimantan Timur, perhatian pemerintah terhadap infrastruktur sangat tinggi, salah satunya adalah infrastruktur jalan. Hal ini dapat dilihat pada tiga program pokok pembangunan pemerintah provinsi Kalimanatan Timur, yaitu peningkatan sumber daya manusia, infrastruktur dan pertanian dalam arti luas. Salah satu langkah yang harus diperhatikan dalam perencanaan perkerasan jalan adalah pemilihan bahan yang sesuai dengan kriteria : bahan mudah didapat, dana yang tersedia cukup, ketersediaan peralatan dan SDM yang ada, serta sesuai dengan fungsi jalannya sendiri. Selama ini penggunaan bahan hanya berdasarkan kebiasaan saja, misalnya untuk Lapisan Pondasi Atas (LPA) selalu digunakan Agregat A, untuk Lapisan Pondasi Bawah (LPB) selalu menggunakan agregat B. Sebenarnya untuk bahan ini bisa disesuaikan dengan bahan yang ada di lokasi, misalnya LPB   dengan menggunakan Sirtu. Penelitian ini akan mencoba menghitung ketebalan masing-masing lapisan perkerasan dengan  menggunakan  Metode Binamarga, untuk mengetahui berapa perbedaan ketebalan  antar LPB menggunakan agregat B dengan LPB menggunakan Sirtu. Selain itu juga akan dihitung berapa perbedaan biayanya. Setelah dilakukan perhitungan tebal perkerasan lentur dengan menggunakan metode Analisa Komponen Binamarga perkerasan  alternatif I ketemu ketebalan lapisan permukaan Laston 7,5 cm, pondasi atas Agregat A   20 cm dan pondasi bawah agregat B 21 cm. Untuk  altenatif II dengan mengganti Agregat B dengan Sirtu yang mempunyai CBR 50%  didapatkan tebal lapisan Sirtu 23 cm. Dari perhitungan terlihat bahwa ketebalan lapisan pondasi bawah dengan bahan Agregat B dan Sirtu perbedaaannya tidak terlalau jauh. Dan setelah dihitung anggaran biayanya, alternatif I diperlukan biaya sebesar Rp 16.171.767.000,-  dan alternatif  II diperlukan biaya Rp 15.308.953.000,-  dari sini dapat diartikan bahwa dengan menggunakan Sirtu sebagai lapisan pondasi bawah, bisa menghemat biaya  sebesar  Rp  862.814.000,-  atau  5,33  %.  Hal  ini akan  lebih  menguntungkan  apabila dilaksanakan pada daerah-daerah yang disekitarnya mempunyai lokasi penambangan Sirtu.

Kata Kunci : Perkerasan Lentur, Agregat B, Sirtu

Read more: EFISIENSI ANGGARAN BIAYA PERKERASAN LENTUR DENGAN MENGGANTI PONDASI AGREGAT B DENGAN SIRTU
 

Anang Subardi

(Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Nasional Malang)

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Abstrak

Proses penyekrapan datar dengan pemotongan ortogonal pada bahan baja ST 42 dipotong menggunakan  pahat  HSS  bertujuan  mempelajari  karakteristik  bentuk  geram  bahan tersebut. Bahan baja ST 42  dipasangkan pada pemegangnya yang berada pada meja sekrap, bergerak kearah melintang terhadap pahat. Pemotongan hanya terjadi pada gerak 5 langkah maju dan pada saat langkah mundur benda kerja bergeser. Kondisi pemotongan menggunakan geometri pahat bersudut geram ( )    , 10, dan 15. Tiga tingkat kecepatan potong  (V) 15, 32, dan 43 m/min serta kedalaman potong (a) 1, 1,5, dan 2 mm ditetapkan sebagai proses pemotongan. Hasil kajian pada metode statistik ANAVA menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari kondisi pemotongan, yaitu pada kedalaman pemotongan terhadap bentuk geram. Namun tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada kondisi pemotongan pada sudut geram dan kecepatan potong terhadap bentuk geram yang dihasilkan pada proses penyekrapan datar dengan pemotongan ortogonal. Dengan sudut geram (15), kecepatan potong (43 m/min) dan kedalaman potong (1 mm) bentuk geram yang dihasilkan adalah paling baik yang diasumsikan dalam skala likert mempunyai nilai 5 (bentuk C) yang merupakan geram kontinyu yang berbentuk spiral < 50 mm.

Kata kunci : baja ST 42, pahat HSS, penyekrapan datar

Read more: KARAKTERISTIK PROSES PENYEKRAPAN DATAR DENGAN PEMOTONGAN ORTOGONAL TERHADAP BENTUK GERAM...
 

Hery Setyobudiarso

(Staf Pengajar Jurusan Teknik Lingkungan FTSP - ITN Malang)

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Abstrak

Kondisi  industri  tapioka  yang  ada  saat  ini  sering  menimbulkan  masalah  lingkungan  yang diakibatkan  oleh kegiatan  industri  tersebut,  sehingga  sudah  selayaknya  diperhatikan  dan dikendalikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beban hidrolik dan waktu detensi optimal dalam menurunkan kandungan BOD dan COD pada air limbah tapioka. Penelitian ini dilakukan untuk mengolah limbah cair tapioka sebelum dibuang ke perairan. Metode yang digunakan adalah filtrasi anaerobik aliran upflow (penyaringan tanpa membutuhkan udara dengan aliran dari bawah ke atas). Pengoperasian reaktor dilakukan secara batch dengan variasi beban hidrolik 1 m3/m2.hari, 2 m3/m2.hari dan 3 m3/m2.hari serta waktu detensi 4 jam, 8 jam dan 12 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan BOD tertinggi sebesar 77.80% dan COD tertinggi sebesar 83.15% pada variasi beban hidrolik 1 m3/m2.hari dengan waktu detensi 12 jam.

Kata Kunci : aliran upflow, BOD, COD, filtrasi anaerobik, limbah cair tapioka

Read more: APLIKASI FILTRASI ANAEROBIK ALIRAN UPFLOW DALAM MENURUNKAN KADAR BOD DAN COD LIMBAH CAIR TAPIOKA
 

Page 91 of 93

<< Start < Prev 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 Next > End >>

INFO TERBITAN (ACAK)

Pengantar Redaksi MEDIA PERSPEKTIF VOL. 10 Nomor 1, JUNI 2010


Jurnal Teknologi
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya Jurnal Media Perspektif Politeknik Negeri Samarinda Volume 10 nomor 1, Juni 2010 dapat diterbitkan. Media Perspektif Polnes memuat hasil-hasil penelitian bidang Teknologi dan karya ilmiah non penelitian yang bermutu. Media Perspektif diterbitkan dua kali dalam satu tahun, yaitu setiap bulan Juni dan bulan Desember.

Pengunjung Aktif

We have 40 guests and no members online

| + - | RTL - LTR
KARYA ILMIAH administered by : SISTEM INFORMASI POLNES.